Dini Hari


Dini hari, 12 Agustus 2018
Waktu Sudah memasuki pukul 01:42 dini hari. Namun, aku masih terjaga dan entah kenapa pula dirimu dengan sekelumit cerita kita yang dahulu memasuki pikiranku. Aku bertanya-tanya, apakah kau sudah tidur? Kelihatannya sudah, kau tidak membalas pesanku lagi. Baguslah ku pikir, kau harus lebih menjaga kesehatanmu. Jangan terlalu sering tidur larut malam.
Di tengah heningnya malam, suara jangkrik semakin terdengar, suara kipas angin pun menderu silih berganti arah. Sejenak suara-suara itu mengalihkanku untuk berpikir tentangmu. Tetapi tidak lama kemudian, kau muncul lagi. Ah! Aku heran dengan diriku sendiri. Bisakah aku tidak memikirkanmu sebelum mataku terlelap, sehari saja, aku ingin merasa lebih kuat untuk menahan rindu. Aku sungguh lemah ya, kau benar tentang itu. Bahkan saat aku terbangun, aku selalu langsung melihat apakah ada namamu di notifikasi handphone-ku. Dan sering kali tak kutemukan, aku kembali kecewa. Tapi tenang saja, aku sudah tidak apa, karena aku mulai terbiasa.
Dahulu tepat 2 tahun yang lalu. Aku berusaha untuk terbiasa dengan kehadiranmu dalam hari-hariku. Ucapan selamat pagimu, yang pertama kalinya membuat ku risih, tetapi lambat laun menjadi selalu ku nanti-nanti. Kesibukanmu yang cukup padat ditambah lagi dengan bisnismu tidak membuatmu lupa untuk selalu mengabariku dan bertanya tentangku.  Sekarang, aku hanya perlu terbiasakan? Apa hal yang kulakukan sekarang sudah benar? Menurutmu bagaimana?
Aku berusaha mencari sisi positif dari fase ini. Fase ini mengajarkanku untuk lebih bersabar. Aku berusaha untuk terbiasa tanpa kabarmu, tanpa pertanyaan-pertanyaanmu tentangku, dan juga tanpa rasa kasih sayang seperti dulu. Aku tidak tahu akan dapat bertahan hingga kapan. Setahun ini memang berat, tetapi entah kenapa pula aku merasa menjadi lebih kuat dari yang ku duga. Lima bulan pertama kita pasti sangat sulit bagimu, kan? Ya, aku pernah merasa lebih dari itu beberapa bulan terakhir. Tapi apakah kau tahu, lima bulan pertama kita adalah masa-masa yang selalu ku nantikan kembali. Aku merindukan masa itu. Masa ketika kau bersikap begitu manis. Ku kira hubungan kita akan selamanya seperti itu. Ternyata aku hanya berimajinasi.
Sekarang, kau jarang sekali bersikap manis, sering kali kau lebih bersikap dingin. Aku bingung apa yang harus kulakukan saat kau bersikap seperti itu. Haruskah aku diam? Atau haruskah aku mengajakmu bicara dan menerima respon yang menyakitkan? Hal itu selalu terlintas dipikiranku saat hendak memulai percakapan denganmu. Padahal kita sudah saling mengenal dua tahun lamanya, tetapi entah kenapa sering kali aku merasa seperti orang asing di sisimu. Berbicara tentang kebiasaan yang sering ku lakukan  yaitu berpikir terlalu jauh mengenai banyak hal. Maaf ya untuk hal itu. Tapi sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu. Aku mengatakannya karena aku sendiri telah merasakannya.
Bolehkah aku sendiri aku sedikit bercerita tentang hariku? Hari ini, saat aku mendengar getaran handphone-ku, ku kira dari ibuku, tapi rupanya itu kau. Aku merasa senang bisa mendengar suaramu lagi. Aku belum pernah mendengar suaramu seperti itu sebelumnya, kau kedengaran senang sekali saat kita membicarakan tugasmu dan hari-harimu disana. Tapi temanmu itu sungguh mengganggu percakapan kita ya.
Bolehkah aku berkata jujur padamu? Saat kau menelponku tadi, aku merasa ada suatu hal yang janggal dengan perasaan ku. Aku seperti ingin segera mengakhiri telfonnya. Lucu kan? Ya, aku juga merasa demikian, aku merasa diriku sungguh aneh. Aku merindukanmu, tapi saat itu aku juga merasa canggung untuk berbicara, layaknya aku dengan teman lelakiku yang lain.  Apa mungkin, ini disebabkan karena aku mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Sehingga saat dirimu hadir, aku merasa biasa saja. Tidak terlalu senang seperti dulu. Aku bingung dengan hal yang telah kulakukan dan hal apa yg harus kulakukan setelah ini. Perasaan seperti ini tidak boleh terjadi dan tidak boleh dibiarkan. Aku takut ini akan berdampak buruk kelak.
Tetapi dirimu tenang saja ya, perkataanku diatas adalah kegelisahan dan pertengkaran batin yang sering kali kurasa. Sedikit berlebihan memang, tetapi kau tenang saja, sejauh ini aku masih berusaha untuk memahami segala kesibukanmu. Dan buktinya sekarang aku sudah mulai terbiasa akan hal itu. Tetaplah semangat dan terus berkarya. Raih apa yg kau suka dan kau inginkan. Bila belum bisa didapat, mungkin kau harus lebih mengarahkannya dan mencoba untuk bersahabat dengan Waktu. Lakukanlah segala hal karena-Nya ya. Semoga Dia juga akan mempermudah jalanmu.
Tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Saat bercerita dan memikirkanmu aku sering kali lupa waktu. Ini sudah pukul 02:23 rupanya. Aku harus segera mengakhiri cerita ini. Terima kasih hari ini sungguh indah.

Selamat malam.
Aku merindukan mu.






Comments

  1. This story seemed real and approached my story which was so troubling to me. I like 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. ❤❤❤ Hopefully what ever is that ur heart and soul is gonna healing soon, let time and new habit be the best healer, thank you for u kindly comment des

      Delete
  2. Auu....lovly❤️🔥

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts