Dini Hari
Waktu Sudah
memasuki pukul 01:42 dini hari. Namun, aku masih terjaga dan entah kenapa pula
dirimu dengan sekelumit cerita kita yang dahulu memasuki pikiranku. Aku
bertanya-tanya, apakah kau sudah tidur? Kelihatannya sudah, kau tidak membalas
pesanku lagi. Baguslah ku pikir, kau harus lebih menjaga kesehatanmu. Jangan
terlalu sering tidur larut malam.
Di tengah
heningnya malam, suara jangkrik semakin terdengar, suara kipas angin pun
menderu silih berganti arah. Sejenak suara-suara itu mengalihkanku untuk berpikir
tentangmu. Tetapi tidak lama kemudian, kau muncul lagi. Ah! Aku heran dengan
diriku sendiri. Bisakah aku tidak memikirkanmu sebelum mataku terlelap, sehari
saja, aku ingin merasa lebih kuat untuk menahan rindu. Aku sungguh lemah ya,
kau benar tentang itu. Bahkan saat aku terbangun, aku selalu langsung melihat
apakah ada namamu di notifikasi handphone-ku. Dan sering kali tak
kutemukan, aku kembali kecewa. Tapi tenang saja, aku sudah tidak apa, karena aku
mulai terbiasa.
Dahulu tepat 2
tahun yang lalu. Aku berusaha untuk terbiasa dengan kehadiranmu dalam
hari-hariku. Ucapan selamat pagimu, yang pertama kalinya membuat ku risih,
tetapi lambat laun menjadi selalu ku nanti-nanti. Kesibukanmu yang cukup padat ditambah
lagi dengan bisnismu tidak membuatmu lupa untuk selalu mengabariku dan bertanya
tentangku. Sekarang, aku hanya perlu
terbiasakan? Apa hal yang kulakukan sekarang sudah benar? Menurutmu bagaimana?
Aku berusaha
mencari sisi positif dari fase ini. Fase ini mengajarkanku untuk lebih
bersabar. Aku berusaha untuk terbiasa tanpa kabarmu, tanpa
pertanyaan-pertanyaanmu tentangku, dan juga tanpa rasa kasih sayang seperti
dulu. Aku tidak tahu akan dapat bertahan hingga kapan. Setahun ini memang
berat, tetapi entah kenapa pula aku merasa menjadi lebih kuat dari yang ku
duga. Lima bulan pertama kita pasti sangat sulit bagimu, kan? Ya, aku pernah
merasa lebih dari itu beberapa bulan terakhir. Tapi apakah kau tahu, lima bulan
pertama kita adalah masa-masa yang selalu ku nantikan kembali. Aku merindukan
masa itu. Masa ketika kau bersikap begitu manis. Ku kira hubungan kita akan
selamanya seperti itu. Ternyata aku hanya berimajinasi.
Sekarang, kau
jarang sekali bersikap manis, sering kali kau lebih bersikap dingin. Aku
bingung apa yang harus kulakukan saat kau bersikap seperti itu. Haruskah aku
diam? Atau haruskah aku mengajakmu bicara dan menerima respon yang menyakitkan?
Hal itu selalu terlintas dipikiranku saat hendak memulai percakapan denganmu.
Padahal kita sudah saling mengenal dua tahun lamanya, tetapi entah kenapa
sering kali aku merasa seperti orang asing di sisimu. Berbicara tentang
kebiasaan yang sering ku lakukan yaitu
berpikir terlalu jauh mengenai banyak hal. Maaf ya untuk hal itu. Tapi
sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu. Aku mengatakannya karena aku sendiri
telah merasakannya.
Bolehkah aku
sendiri aku sedikit bercerita tentang hariku? Hari ini, saat aku mendengar
getaran handphone-ku, ku kira dari ibuku, tapi rupanya itu kau. Aku merasa
senang bisa mendengar suaramu lagi. Aku belum pernah mendengar suaramu seperti
itu sebelumnya, kau kedengaran senang sekali saat kita membicarakan tugasmu dan
hari-harimu disana. Tapi temanmu itu sungguh mengganggu percakapan kita ya.
Bolehkah aku
berkata jujur padamu? Saat kau menelponku tadi, aku merasa ada suatu hal yang
janggal dengan perasaan ku. Aku seperti ingin segera mengakhiri telfonnya. Lucu
kan? Ya, aku juga merasa demikian, aku merasa diriku sungguh aneh. Aku
merindukanmu, tapi saat itu aku juga merasa canggung untuk berbicara, layaknya
aku dengan teman lelakiku yang lain. Apa
mungkin, ini disebabkan karena aku mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Sehingga saat
dirimu hadir, aku merasa biasa saja. Tidak terlalu senang seperti dulu. Aku
bingung dengan hal yang telah kulakukan dan hal apa yg harus kulakukan setelah
ini. Perasaan seperti ini tidak boleh terjadi dan tidak boleh dibiarkan. Aku
takut ini akan berdampak buruk kelak.
Tetapi dirimu
tenang saja ya, perkataanku diatas adalah kegelisahan dan pertengkaran batin
yang sering kali kurasa. Sedikit berlebihan memang, tetapi kau tenang saja,
sejauh ini aku masih berusaha untuk memahami segala kesibukanmu. Dan buktinya
sekarang aku sudah mulai terbiasa akan hal itu. Tetaplah semangat dan terus
berkarya. Raih apa yg kau suka dan kau inginkan. Bila belum bisa didapat, mungkin
kau harus lebih mengarahkannya dan mencoba untuk bersahabat dengan Waktu.
Lakukanlah segala hal karena-Nya ya. Semoga Dia juga akan mempermudah jalanmu.
Tidak terasa waktu
berjalan dengan begitu cepat. Saat bercerita dan memikirkanmu aku sering kali
lupa waktu. Ini sudah pukul 02:23 rupanya. Aku harus segera mengakhiri cerita
ini. Terima kasih hari ini sungguh indah.
Selamat malam.
Aku merindukan mu.
This story seemed real and approached my story which was so troubling to me. I like 😍
ReplyDelete❤❤❤ Hopefully what ever is that ur heart and soul is gonna healing soon, let time and new habit be the best healer, thank you for u kindly comment des
DeleteAuu....lovly❤️🔥
ReplyDelete