Hari Ini
Ya, hari ini
dan semalam sikapmu sungguh manis. Aku sangat senang melihatmu dan bisa
mendengar suaramu. Namun aku takut, aku takut aku kembali terlena dengan indahny
sikapmu. Karena sekarang aku sedang belajar dari pengalaman, kadang ada
beberapa orang yang bersikap baik saat kau berguna baginya, ya semua orang
pasti memiliki sifat itu. Termasuk aku. Tapi..
Kau sungguh
manis. Sangat manis bahkan. Hingga saat kau terlalu sibuk dan aku tidak menjadi
salah satu prioritasmu bahkan sedikit saja, itu sangat menyakitkan bagiku.
Sangat. Saat aku memperhatikanmu, menanyakan segala hal tentangmu , memanggilmu
dgn panggilan kesayanganku. Kau hanya bersikap biasa saja dan sungguh datar. Tidak
jarang kau malah men-judge-ku karena sikapku yang berlebihan menurutmu.
Maafkan aku untuk hal itu. Aku hanya terbiasa dengan kehadiranmu, dengan sikapmu
yang manis. Saat hal yang sebaliknya terjadi, aku sungguh belum siap.
Setelah
beberapa hari berlalu ku kira, kau akan berubah, saat sibukmu sudah usai, atau
disaat waktu santaimu. Mungkin kau akan memperdulikanku walau hanya sedikit
saja. Itu sudah sangat mengobati hatiku yang hampa. Tapi tidak, tidak seperti
dugaanku. Kenyataannya untuk menyisakan waktumu sekitar 30 detik dari 12 jam yang
dirimu miliki, kau tidak bisa. Aku tidak tahu ini kenapa. Aku selalu berpikir
positif mungkin aku hanya perlu untuk terbiasa dengan sikapmu yang baru. Tapi
kadang aku khilaf, aku tidak sanggup menahan emosi ku lagi, kadang aku menangis
sendiri, dan sering kali aku marah padamu. Aku kira amarahku dapat
menyadarkanmu bahwa aku hanya butuh sedikit perhatian. Nyatanya tidak, amarahku malah membuatmu semakin bersikap dingin.
Aku kembali
berusaha berpikir positif, mungkin aku hanya perlu untuk terbiasa. Satu tahun ini sungguh berat bagiku. Tapi aku yakin
ini akan indah pada waktunya. Mungkin denganmu atau dengan yang lain yang Tuhan
pilihkan untukku. Ya, aku mulai terbiasa menjalankan hari-hariku tanpamu. Aku
belajar mandiri, menyibukkan hariku untuk meraih mimpi-mimpiku, memantaskan
diriku dan terus mencoba untuk menyelasaikan masalah-masalahku sendiri.
Walaupun ujung-ujungnya aku sering kali menangis, tapi tenang saja. Aku tidak
apa-apa.
Aku belajar
banyak dari proses ini. Sekarang aku tahu apa arti sebuah pepatah yang
mengatakan tidak semua yang kita ingin dapat kita miliki. Aku sungguh
mencintaimu. Entah kenapa, aku tetap dan masih melakukannya. Di samping sikap
buruk dan masa lalu yang buruk yang pernah aku alami karenamu. Aku mengambil
sisi positifnya. Aku belajar banyak darimu. Iya, dari perjalanan yang kita
lalui. Aku masih mencintaimu. Hanya saja, aku lebih menyesuaikan cara aku
mencintaimu dengan cara yang kau inginkan agar aku tidak terlalu sakit, saat
tidak mendapatkan respon yang aku harapkan. Semoga kau selalu bahagia begitu
juga denganku. Ku harap Tuhan bersedia untuk membantu dan memperjalankanku
menemukan kebahagiaan ku. Aku tidak tahu dimana kebahagiaan itu apakah itu
kamu, atau mungkin kebahagiaan itu ada dalam diriku sendiri. Aku masih
mencarinya hingga sampai saat ini. Namun, ada secercah harapan yang kurasa.
Kebahagiaanku semakin terasa dekat saat aku hamparkan sajadahku dan menghayati
alunan kitabku. Ku harap kau selalu berada di bawah lindungan-Nya.
Semoga bahagia dariku yang masih mencintaimu
Comments
Post a Comment