Cerita Kecil dari Tepian Pantai Langkat (Sebuah Aksi di Kwala Gebang)
Sebuah memeoriam yang menjadi perjalanan besar di hidupku kelak. Cerita ini akan banyak mengandung intrik intrik percintaan dan bumbu-bumbu penuh bawang haha
Skip.
12 Oktober 2019. Seorang gadis kutu buku memberanikan diri untuk pergi ke daerah yang tak pernah ia kenal sama sekali. Ribuan ekspektasi ia bayangkan akan seperti apa nantinya. Rapat dan pembekalan menjadi modal dasar baginya untuk bisa mendawamkan ini akan menarik! Ini akan menjadi pengalaman berharga untukmu!
Sekitar bulan Agustus, rapat terus diagendakan. Tim-tim dikerahkan. Tujuan dan visi pun turut diselaraskan. Bersama ketua yayasan yang energik, kami membangun visi dan misi untuk melakukan aksi. Teman-temanku turun ke jalan, berpeluh debu dan keringat mengumpulkan rupiah dan buku layak pakai. Para insan kreatif membuat poster hingga mendesain pamflet donasi. Para pengajar berusaha semaksimal mungkin menghasilkan materi dan metode pembelajaran terbaik. Seksi humas meluncur ke tempat sasaran guna mengecek lokasi dan kondisi masyarakat disana. Semuanya bergerak sesuai bidangnya masing-masing.
Hingga, suatu ketika masalah mulai menampakkan wujudnya. Target kami tak tercapai, donasi yang dikumpulkan tak mencukupi biaya operasional dan terutama fasilitas yang ingin diberikan. Diskusi alot berjalan, argumen ini itu dilontarkan. Kami kebingungan! Masa donasi dan pengumpulan fasilitas pun diperpanjang.
Hari demi hari berlalu, yang kami nanti tak kunjung bertambah. Kami dihadapkan pada kondisi dimana mau bergerak atau tertinggal. Artinya kegiatan baik ini akan tertunda. Hingga akhirnya, keputusan bersama disepakati. Kami pergi dengan mengorek kantong kami sendiri. Sedangkan, biaya fasilitas pure kami luncurkan dari para donatur. Sebuah pilihan yang berat untuk mahasiswa yang masih dibeasiswai oleh orang tua dan hanya kerja paruh waktu. Tapi, dengan tekad kuat kami yakin ini bukan tentang saat ini melainkan tentang masa depan. Semua memori ini akan meninggalkan pengalaman yang takkan terlupakan.
Singkat cerita, kami berangkat ke daerah tersebut. Hiruk pikuk kota Stabat kami lewati. Jalanan yang tidak bersahabat berhasil kami lalui. Perlahan tapi pasti aroma pantai, pasir, dan rumah-rumah panggung mulai terlihat. Mungkin sekitar 3-4 jam perjalanan kami sampai ke tempat tujuan. Suasana kehidupan pinggir pantai sangat terasa. Kami di hadapkan pada puluhan rumah panggung dan tumbuhan bakau serta kapal-kapal nelayan yang bertengger dengan damai. Sungguh pemandangan yang indah!
Di sore hari, setelah melepas penat dan menyusun barang-barang. Kami diminta untuk melakukan projek dadakan. Sebelum memulai kegiatan tak lengkap rasanya jika tidak berkumpul dan berteriak bersama. Sebenarnya aku kurang suka euforia seperti ini, tapi ancaman Kak Yani membuat hatiku tergugah dan selalu ku ingat hingga kini wkwk. "Siapa yang gak ikut ga nikah!", begitu seingatku. Oke next, kami berjalan menuju pantai. Rumah demi rumah kami lewati, jalanan yang keras hingga semacam pasir hisap kami lewati. Hingga kami sampai guys di hadapan pantai tak berujung! Wah, MasyaAllah maha kuasanya Tuhan dengan ciptaan-Nya. Kami berlarian kesana kemari, bernyanyi, menari, melompat dan berteriak bersama. Aku sebagai seorang yang ambivert, tak lagi bisa menahan naluri ekstrovertku bergejolak. Haha. Tak ada rasa malu atau ragu, aku berbaur layaknya anak-anak yang gembira dengan kedatangan kami.
Berhenti sejenak dari kesenangan di Pantai, ku merasa memang kesan pertama sungguh memanjakan mata dan hatiku. Tapi, tidak demikian setelah kami bermalam disini. Suasana pagi hari di Kwala Gebang sungguh indah. Kami bergegas untuk beraksi. Kalau kemarin sore aku kalap dan tak memerhatikan lingkungan sekitar karena tertuju indahnya Pantai. Kini, aku sadar bahwa indahnya Pantai ternyata tak sejalan dengan indahnya dunia pendidikan disana.
Sebagai mahasiwi fakultas ilmu pendidikan, pemandangan ini sungguh mengoyak-ngoyak hatiku. Bagaimana bisa pemerintah menyamaratakan standarisasi pendidikan sementara wilayah ini masih seperti ini. Fasilitas saja tak terpenuhi bagaimana bisa kita mengharapkan kualitas yang memadai.
Sekolah SD dengan dinding dan lantai yang terbuat dari papan kayu usang. Diterjang air pasang hingga rapuh dan berlubang. Berjalan menapakinya saja harus hati-hati jika tidak bisa-bisa kita jatuh dengan konyol ke lumpur air asin. Deritan kayu pun turut terdengar membersamai setiap langkah kaki kami.
Namun, pemandangan luar biasa bagiku ketika Bendera Sang Saka Merah Putih masih terus berkibar di hadapan kami. Hatiku tertegun, pikiranku melayang. Mulutku bergumam,
"Tuhan jika saat ini kami tak berkesempatan berjihad dengan pertumpahan darah di medan perang melawan musuh-Mu. Izinkan kami berjihad dengan segala kemampuan kami untuk bisa mengibarkan dan menyebarkan pendidikan yang merata dan layak untuk setiap umat manusia. Jika jalan itu memang berat ya Tuhan. Aku yakin, aku memiliki-Mu yang Maha Kuasa atas segalanya. Mampukanlah kami, izinkanlah kami, dengan segala ridho-Mu".
bersambung...
Nb:
Terimakasih penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memperkenankan penulis dan tim untuk sampai ke tempat indah penuh pengalaman ini, kepada orang tua yang telah mengizinkan gadis manja ini keluar dari zona nyamannya, kepada Kak Ariyani dan Pak Fadli sebagai pemimpin Yayasan Filantropi Pendidikan dan Pendikan Filantropi yang telah menggagas terlaksananya kegiatan ini, kepada bg Putra dan teman-teman yang sangat menginspirasi, kepada semua filantropis yang sudah membersamai, kepada pemimpin, tokoh masyarakat, tetua dan kepala sekolah, ibu asuh yang kami tumpangi rumahnya serta masyarakat di desa Kwala Gebang, dan kepada semua pihak baik dari donatur, media partner hingga Pak supir bus yang sudah membantu kami demi terlaksananya aksi ini.
Sungguh beribu terimakasih pun takkan cukup jika disandingkan dengan jasa dari berbagai pihak sehingga semua cerita ini terangkai dengan apik menjadi pengalaman yang nilai-nilainya sangat berharga.
Indah, Beraroma rindu, dan cinta.
ReplyDeleteTerimakasih kenangan. Semoga cita benar-benar menjadi cinta.
☘
Aamiin, Semangat blogger!
Delete