Poisonous Love


Sore ini, aku menemukan suatu cerita lucu tapi erat dengan nilai-nilai yang kiranya bisa kita ambil pelajaran darinya. Mungkin beberapa diantara pembaca blog ini pernah menikmati film animasi ternama karya Blue Sky Studios yang menceritakan petualangan burung berwarna biru bernama Rio.

Tapi bukan Rio yang ingin ku ceritakan disini tetapi Gabi, salah satu tokoh yang mendukung aksi jahat Nigel, seekor burung kakak tua yang ingin membunuh Rio kala itu. Kisah ini mulai menarik ketika Gabi menyanyikan sebuah lagu ketika Nigel sedang terlelap dalam tidur.

Kukira lagu yang akan dinyanyikan tentang rencana jahat mereka. Perkiraanku salah, Gabi menyanyikan kisah cinta sepihaknya terhadap Nigel. Ternyata, dibalik ketaatannya dalam mengikuti setiap perintah Nigel dalam menjalankan aksinya Gabi memendam sebuah rasa yang amat dalam. Ia diam-diam menyukai Nigel.

Sontak, aku heran bagaimana bisa seekor katak menyukai burung kakak tua. Haha. Tapi, kubiarkan telinga ini turut mendengar nyanyian Gabi. Disini Gabi mulai bercerita, dia mengatakan bahwa dirinya adalah seekor katak beracun yang sangat mematikan. Setetes saja cairan tubuhnya mengenai Nigel, itu bisa membuatnya menangis seumur hidup! Nigel bisa saja mati konyol hanya karena Gabi mencintainya.

Tersirat aku paham yang dikatakan oleh Gabi, mungkin memang lucu kelihatannya jika ada cinta diantara dua makhluk ini. Tetapi, itulah takdirnya. Ia tak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa, bahkan mungkin ia tak pernah menyangka cintanya akan jatuh kepada Nigel, si burung kakak tua.

Bila ditarik hikmahnya, nilai-nilai di potongan film sangat melekat dengan situasi virus merah jambu (cinta) yang sering kali menjebak insan-insan muda. Tiba-tiba saja cinta bisa datang tanpa dijemput atau diundang hehe. Kadang, tanpa kita sadari kita pun larut di dalamnya. Larut akan balasan-balasan pesan, terbawa arus percakapan yang kian mengasyikkan tanpa sadar disana ada sesuatu yang mulai tumbuh.

Ketika kita menemukan sesosok yang bisa mengisi kekosongan hati, tentu sobat tahu bagaimana rasanya. Tetapi, pernah tidak sobat berpikir lebih lanjut, diumur yang sekarang dengan situasi yang kalian hadapi dan kondisi psikologis yang masih morat marit. Apakah kalian yakin, yang kalian rasakan benar-benar cinta bukan perasaan hampa yang butuh hiburan? Pernahkah kalian bertanya, apakah ini memang cinta yang memang ku damba atau sekedar momen indah yang akan berlalu dengan sendirinya?

Persis dengan cerita Gabi, terkadang kita tahu sesuatu itu menyakitkan tetapi apakah kita sanggup mengakhirinya saat masih nikmat dirasa. Gabi menunjukkan kita satu hal yang tersirat, rasa suka tak selamanya harus diikuti oleh rasa saling memiliki.

Ust. Salim A. Fillah mengatakannya dengan lebih apik:

"Kadang kau harus meneladani matahari
Ia cinta pada bumi tapi ia mengerti
mendekat pada sang kekasih justru membinasakan"


Sumber foto: https://www.wallpaperbetter.com/id/search?q=rio+2&page=5

Comments

Popular Posts