My purpose of life (Part 1)

21 tahun sudah berlalu, tangis bayi itu kini berubah menjadi kicauan gadis yang tengah beranjak dewasa. Kehadiranku yang tak sempurna diterima hangat oleh keluargaku. Tak pernah terbayang olehku bagaimana perasaan ibuku saat pertama kali melihat bayi itu pasca lahiran. Terkejut campur sedih pasti beliau rasakan.

Hari-hari pertamaku sebagai seorang bayi pasti tak mudah untuk ibu dan ayah. Ditengah krismon, aku lahir dengan keadaan seperti itu. Ayah ibuku mulai kelimpungan. Bertanya kesana kemari demi kesembuhanku. Kala itu, pastinya aku sangat menyusahkan keluargaku. Ibu, ayah kalian sangat kuat! Aku bersyukur dilahirkan dari rahimmu bu:)

Sebulan sudah umurku, namun tak kunjung ada titik terang. Banyak rumah sakit menolakku karena aku masih sangat belia. Saat itu belum ada dokter yang mau mengoperasi bibir sumbing untuk bayi seumurku. Iya, aku menderita bibir sumbing sejak dilahirkan. Semua orang mengatakan aku harus dioperasi saat umurku sudah 5 tahun. Ayah dan ibuku tak ingin seperti itu, terlalu lama bagi mereka. Sebagai anak perempuan yang pertama sekaligus terakhir di keluarga ini, tentu ayahku ingin melakukan yang terbaik.

Hari terus berlalu, aku masih sama seperti hari sebelumnya. Tak ada sedikitpun yang berubah dari bibirku. Bibir ini masih bengkak dan terlalu menonjol. Sungguh berbeda dari bayi lainnya yang seumuran denganku. Mereka terlahir dengan bibir yang manis nan menarik untuk dicium tapi tidak denganku.

Tetapi saat banyak ibu lainnya mencemooh diriku, keluargaku malah dengan bangga membawaku kemana-mana. Almarhumah nenekku dulu bahkan sering membawaku jalan-jalan atau sekedar berjemur. Sama halnya dengan uwak, ibu, om, semuanya menganggapku sama, tidak berbeda sedikitpun.

Lambat laun, ayahku mulai resah karena tak kunjung ia temukan rumah sakit yang mau menerimaku. Hingga suatu ketika, ayahku memberanikan diri tuk bertanya untuk ke sekian kalinya ke salah seorang perawat di RS, tempat ayahku bekerja. Perawat tersebut menuturkan, ada seorang dokter yang bisa menanganiku. Ayahku memutuskan untuk pergi ke RS X, aku lupa nama rumah sakitnya. Disana, ayahku diberitahu ada seorang dokter hebat yang bisa mengatasi masalah putrinya.

Ayah pulang dengan kabar gembira. Ia menceritakan semuanya kepada ibu, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah. Ibu bingung kenapa ayah seperti itu, ayah lanjut menjelaskan bahwa...

#bersambung...

Comments

Popular Posts