Memantaskan diri

Sudah 7.692 hari diri ini diizinkan-Nya menghirup udara gratis. Dia berikan aku kesempatan menjelajahi diri dan pikiran. Sering kali diri ini lupa akan hakikat kehadiran. Tapi, Maha Baiknya Dia mengingatkan dengan berbagai peristiwa yang kadang penuh suka cita dan juga diliputi duka. 

Langkah demi langkah tanah ini kutapaki, pijakanku pun kadang tak tentu. Aku terpaku pada ciptaan-Mu. Tetapi gagal mengagumi-Mu karena Dzat-Mu. Sungguh ku tak tahu malu. Beribu alasan ku kutip tuk meyakinkan kebenaran egoku. Nyatanya, aku tak pernah bisa menipu diriku. Diri yang akan kembali kepada-Mu. 

11 Juli 2020, kucoba program baruku 'menghafal hadist'. Jika dulu kulakukan karena tuntutan pemenuhan pendidikan. Kini, ku bertekad tuk memahami-Nya hanya karena-Mu dan kekasih-Mu. Hari demi hari berlalu, tanpa satu hadits pun melekat. Aku hampir putus asa. "Apakah cita-cita ini sungguh terlalu muluk?", aku bergumam dalam pikiranku yang pesimis. Hingga pada hari itu, saat rahmat-Mu turun pada kami. Aku bertekad aku akan memulainya sekarang tidak esok atau lusa. 

Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk bisa menghafal tapi aku tidak hanya ingin sekedar menghafal. Aku ingin bisa memahaminya dan menginterpretasikannya dalam kehidupan nyataku. Bukan aku 'sok alim' atau berlagak baik. Tetapi, aku hanya ingin memahami keyakinanku dengan lebih baik dari sebelumnya. Seseorang yang ku kagumi menyadarkanku bahwa tak cukup jika aku sudah terlahir menjadi muslimah. Tapi, aku juga perlu untuk mengenal-Nya karena aku Muslimah yang paham akan apa yang aku dalami. Ini bukan tentang ketidakwarasanku yang mencoba menggali sesuatu di luar nalarku. Ini tentang lebih memahami apa yang selama ini kubaca, ku hafal, ku lakukan secara lebih mendalam. 

Aku tidak tahu masa depan tapi mungkin ini akan menjadi perjalanan yang panjang, aku mungkin saja akan putus asa dan kembali kehilangan pijakan atau mungkin sebaliknya. Tapi, itu tidak akan menyurutkan niatku. Tidak ada yang berubah jika aku tidak bergerak, bukan? Aku hanya bisa terus bergerak dan mencoba hingga akhirnya aku tahu bagaimana hasilnya. Sosok Einsten pun mengatakan hal demikian  “Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama". 

Kini, aku seperti bayi yang merangkak menuju ibunya. Kadang bibirnya pecah, kakinya tersandung, lututnya berdarah tapi ia tidak menyerah. Pelukan ibunya adalah suatu hal yang sangat ia nantikan. Aku sedang memantaskan diriku untuk bisa memeluk ibuku dengan bangga. Bangga karena aku adalah anak yang Tuhan karuniakan padanya. Bukan lagi, karena embel-embel pretasiku atau pencapaianku. 

Satu hadits ini membuatku bercerita sampai kesini. Hadits ini mungkin sering kita dengarkan tapi jarang sekali kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah kata yang menjadi dasar kita semua bertindak namun sering kali mengalihkan kita pada tujuan. Ia adalah Niat. Ini adalah hadist ketiga yang coba ku hafal kembali tetapi sekarang feel nya sangat berbeda. Karena itu, aku menyebutnya yang pertama melekat. 

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya pada apa yang ia niatkan.” (HR BUKHARI DAN MUSLIM) 


Comments

Popular Posts