Kenapa Matematika? (Part 1)

Berbicara tentang matematika kurasa semua orang sudah paham dengan sekelumit cerita tentangnya. Sering kita dengar orang membencinya tapi tetap saja ia tidak bisa hilang dari kehidupan. Mahasiswa hukum saja masih harus belajar matematika jika belajar perihal mawaris (hukum pembagian warisan dalam Islam). Tak pernah terpikir olehku, aku memilih jurusan ini. Di awal perkuliahan tepatnya saat masa orientasi aku hanya menjawab karena saya suka matematika. Oleh karena itu, aku memilih jurusan ini. Tapi, lambat laun aku sadar bukan hanya itu alasannya. 


Aku murid pindahan dari daerah tembung ke Patumbak (sebuah kecamatan di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara). Dahulu aku sempat bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al-Hidayah yang berlokasi di Jln Datuk Kabu, Tembung. Namun, ketika aku menyelesaikan kelas 3, keluargaku pindah karena satu dan lain hal. 

Sesampainya di Patumbak, orang tuaku kesulitan menemukan sekolah madrasah. Adapun sekolah madrasah tapi aku harus turun kelas karena tidak ada kelas untuk kelas 4 saat itu. Singkat cerita, aku masuk ke SDN 101796 Patumbak. Di sini awalnya cintaku pada matematika tumbuh. 

Saat itu, aku bertemu dengan seorang guru yang sangat baik. Beliau bermarga Sianturi sehingga kami sering memanggilnya ibu Sianturi. Beliau sering memanggilku dengan kata "nakku". Karena beliaulah, aku semakin senang belajar matematika. Beliau membuat pelajaran ini terasa lebih menyenangkan. Akupun jadi lebih sering berpartisipasi dan menorehkan angka yang memuaskan. 

Saat itu, anak beliau juga mengajar di sekolah kami. Namanya ibu Uli , beliau mengajar bahasa Inggris. Sejak kelas 3 SD orang tuaku sudah menanamkan bahwa bahasa asing itu penting. Sehingga, pelajaran bahasa Inggris tidak menjadi masalah bagiku saat aku pindah kesini.

Aku tidak tahu kenapa mungkin rasa cintaku pada dua mata pelajaran ini berujung kepada rasa penasaran guruku. Beliau bertanya apa pekerjaan ayah dan ibuku, dimana aku tinggal, dan banyak pertanyaan lainnya. Dengan lugunya anak SD aku menjawab dengan santai kala itu. "Ayah saya seorang penarik betor (becak bermotor) bu, ibu saya tiap bagi mencuci baju di rumah orang sementara untuk tempat tinggal saya masih numpang di rumah uwak".

Tanpa kusadari mata ibu Sianturi berkaca-kaca. Beliau mengusap-usap punggungku sambil berkata " Kuliah kau ya nak, jadi orang sukses. yakin ibu pasti kau kuliah. Rajin sembahyang ya Dina. Bahagiakan orangtua nanti". Aku sedikit lupa dengan redaksi bahasa beliau. Tapi kala itu aku hanya mengatakan "iya bu". 

Sesampainya dirumah, aku pun bercerita hal sama kepada mamak. Beliau pun turut berkaca-kaca. Saat itu, aku heran kenapa guru dan mamak melakukan hal yang sama. 

Tapi semenjak saat itu, aku semakin semangat belajar matematika apalagi bahasa Inggris. Usapan tangan Ibu Sianturi ke badanku selalu menjadi pemacu saat aku ingin menyerah. 

Long story short, aku memasuki tahap yang berbeda yakni menjadi siswi Madrasah. Setiap hari aku selalu diantar ayah naik becak sampai tepat ke samping kelas. Tak pernah terbesit rasa malu dibenakku, malahan aku semakin bersemangat ketika aku bisa mengucapkan "Da da Ayah" sesaat sebelum aku mulai sekolah.

Setelah memasuki dunia permadrasahan aku menyadari bahwa aku ketinggalan banyak hal dari teman-temanku. Sebagai lulusan sekolah negeri, aku tidak tahu menahu tentang bahasa Arab, sejarah Islam, dll. Di SD negeri kami hanya mempelajari agama yang dasar saja dan itupun hanya 2 jam pelajaran seminggu. I spent more hours to learn than my friends. Alhamdulillah God make it easier for me. Alhasil ketekunan membuatku menjadi juara umum. 

Aku diajak mengikuti beragam lomba mulai dari olimpiade pendidikan agama hingga Kompetisi Sains Madrasah bidang fisika. Saat ini, aku mulai jatuh cinta sama fisika. Aku ingat sekali dulu aku sangat beruntung bisa dapat tutor fisika gratis. Hehe. Dulu di sekolahku hanya siswa unggulan yang mendapatkan pengajaran dari tutor selepas pulang sekolah. Namun, karena aku sedang  olimpiade aku dibimbing langsung sama beliau, Pak Akmal namanya. Bahkan, beliau pernah ke rumahku untuk bimbingan. (Semoga rezeki Pak Akmal semakin berkah, YaAllah Aamiin)

Di sekolah ini juga aku bertemu guru-guru terbaik. Aku tidak bisa menyebutkan satu persatu tapi mereka sangat berjasa bagiku.  Bahkan ada seorang guru yang selalu  membayarkan ongkos ketika berjumpa di angkot dan memberiku uang yang jumlahnya cukup besar setiap  kali kami tidak sengaja bertemu. Entah karena rasa kasihan atau sayang aku pun tidak tahu. Aku sering kali dibuat terkejut dan bingung harus apa di saat-saat seperti ini. 

Seiring berjalannya waktu.... 

Bersambung di Part2


Comments

Popular Posts