Sejalan tapi tak beriringan
Hal itu juga terjadi padaku. Sedikit banyak mamak menjadi panutanku dalam segala hal. Tak jarang terkadang kami memiliki kemiripan. Bahkan kesukaanku pada warna gelap khususnya abu-abu juga karena tanpa disadari ibuku sering membelikanku barang berwarna itu. Beliau juga tempatku mencurahkan 6000 kata setiap hari wkwk. Ibarat sedang seminar dan menjadi pembicara hebat aku sering berlatih dan berbincang di depannya. Aku sering mengatakan 'Mak suatu saat nanti adek akan menjadi pembicara yang bisa menebar kebermanfaaatan, dan ini adalah salah satu proses besar yang adek lakukan, dan mamak sudah menjadi bagian dari proses itu '. Tak jarang mamak mengeluh bahkan stress mendengarku yang terus mengoceh apalagi ketika menggunakan bahasa Inggris haha. Hingga, aku pernah mengajukan pertanyaan konyol "Mak, kira-kira ada gak ya orang yang mau nerima adek dengan seluruh cerita ini yang kadang asik juga konyol haha"
Okey, skip.
Kegemaranku belajar juga karena mamak. Mamak selalu mendukungku dan memotivasiku dalam segala hal. Aku bukan orang yang percaya diri awalnya. Sejak kecil di-bully sudah biasa bagiku. Sebagai penderita bibir sumbing, masa kecilku tidak begitu menyenangkan. Karena pada umumnya ketika anak-anak melihatku pertama kali mereka akan melihat bekas jahitan dan bibirku yang membengkak serta jika ia begitu perhatian ia juga bisa melihat hidungku yang tidak simetris. Tapi, Maha Baiknya Tuhan menganugerahkanku seorang mamak yang pantang menyerah membangkitkan jiwa semangatku. Hingga akhirnya aku bisa seperti sekarang!
Mamak juga yang membuatku gemar membaca. Tanpa disadari kebiasaannya membaca menular kepadaku. Ketika ia membaca, aku pun merasa asing jika menonton tv. Awalnya, terpaksa harus ikutan. Tapi lambat laun aku terbiasa. Walaupun selera buku kami berbeda tetapi kami saling support satu sama lain. Kami juga suka saling bercerita mengenai buku yang sudah kami baca. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, saat bercerita aku ibarat penulis terkenal yang sedang membedah buku dihadapannya hehe.
Semakin aku beranjak dewasa kadang semangat bacaku menurun karena tuntutan tanggungjawab. Ketika rasa ini hadir, aku malah melihat mamak yang walaupun lelah bekerja seharian tetap menyempatkan membaca. Aku malu! Karena begitu lemah terhadap diri sendiri.
Dokumentasi diatas ialah ketika mamak sedang membaca. Hari ini ia bercerita kepalanya pusing seharian tapi beliau malah asik membaca sebelum akhirnya ketiduran. Beliau sangat gemar membaca tulisan Tereliye. Hampir semua buka Tereliye di atas habis di lahap olehnya. Tak heran, kalau aku bercerita dengannya pasti ada saja nilai kehidupan yang dikutipnya dari buku-buku ini.
Membaca seharusnya bukan lagi sebuah hobi atau pekerjaan yang kita lakukan ketika waktu luang tetapi kebutuhan setiap insan peradaban. Indonesia sudah krisis insan-insan yang cinta baca. Buktinya banyak sekali hoax bertebaran, kritik tanpa rasionalisasi, hingga ejekan tak berdasar yang di lontarkan oleh jari jemari ini. Kecanggihan media sosial membuat kita bisa membuat akun palsu dan seenaknya melakukan sesuatu memberi kemudahan aksi-aksi tak bertanggungjawab beredar. Kini dunia sudah digengaman. Seharusnya, kita menyadari bahwa yang kita genggam sekarang ibarat pisau yang bisa menyakitkan jika kita salah memegang sisinya. Kesadaran bahwa setiap tingkah laku kita dilihat oleh-Nya seharusnya sudah bisa membuat kita paham bahwa segala hal yang kita lakukan akan dipertanyakan di yaumul hisab kelak.
Semoga kita bisa menjadi insan yang bahagia dan membawa kebahagiaan serta kebermanfaatan bagi khalayak ramai. Walaupun kita tak bisa beriringan kita masih sejalan kok. Sejalan di jalan yang Allah ridhoi. Aamiin ya Rabbal 'alamiin.
Comments
Post a Comment