KENAPA KITA HARUS BERPIKIR?

Dari dulu bahkan sampai sekarang, i'm really passionate to read books. Aku sangat suka dengan buku-buku pengembangan diri, kepemimpinan, minimalism, teknologi ataupun bisnis. Sejujurnya sebelum jatuh cinta pada buku di atas terlebih dahulu aku jatuh cinta pada buku keagamaan. Agama menyadarkanku tentang bagaimana Tuhan masih mau menerimaku kembali pada-Nya walau aku berlumur dosa jika aku mau bertaubat dengan taubat yang sebaik-baiknya. 

Namun, lambat laun kegalauanku menghilang, aku lupa. Aku lupa akan rasa sedih yang membuatku bersimpuh kemarin lalu. Aku malu pada diri sendiri, saat butuh bersimpuh haru, saat tak butuh lupa seperti tak tahu malu. Aku pernah men-judge orang demikian, nyatanya akupun demikian pada-Nya. Bersyukur Tuhan menyadarkanku dengan beragam cara ajaibnya! 

Singkat cerita, di awal tahun 2020 aku tergerak untuk tidak begini begini aja. Harus bangkit, dan buat perubahan. Aku dipertemukan dengan banyak orang dengan beragam tempramen dan pembelajaran yang ia sampaikan padaku baik secara tersurat ataupun tersirat. Pada fase ini, Tuhan menunjukkan kepadaku beberapa orang dan akun instagram yang berbau dakwah. Jujur saja, awalnya aku sering kali men-skip postingan jenis ini. Hingga akhirnya aku tertegun pada postingan yang kurang lebih redaksinya begini

"Baca buku bisa dinikmati sampai selesai, tapi pernah gak kamu baca terjemahan Al-Qur'an dari awal sampe akhir sambil menikmatinya? "

"Jleb! "
Aku malu banget sama diriku sendiri. Karena ini, aku semakin mempertanyakan sudah sejauh apa imanku? Kenapa aku begini? 

Aku semakin berniat untuk melakukan perubahan. Berat? Banget. Godaan datang terus gak ada hentinya. Aku lalai lagi, bangkit lagi bahkan sampai sekarang, aku masih terus berproses! 

Aku coba dengan membuat jadwal harian dengan membeli salah satu buku agenda muslim dimana di dalamnya terdapat mutaba'ah yaumiyah yakni tadabbur Qur'an. I'm very excited at first. But, day by day, semangat nurun, males buat catatan di buku agenda dst. Minggu pertama percobaanku membiasakan diri mentadabburi Al-Qur'an GAGAL! 

APA AKU MENYERAH? 
Tidak

Aku pernah mendengar suatu kutipan 
"Jangan berhenti bertaubat sekalipun engkau kembali bermaksiat, taubat-maksiat-taubat lagi-maksiat lagi- taubat terus sampai taubat itu mengalahkan keinginanmu untuk bermaksiat"

Ini yang selalu ku ingat saat gagal. Aku yakin Tuhan selalu memberikan jawaban terbaik. Aku hanya perlu berusaha sekuat ku mampu. Karena bukannya Allah uda bilang sendiri dalam firmannya Qur'an surah Al-Baqarah ayat 286 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.. "

Hari demi hari ku lalui, aku semakin takjub dengan apa yang ku baca. Semua kegelisahanku selama ini ternyata jawabannya ada di depan mata yakni di Qur'an. Aku membaca sebuah ayat yang berkaitan dengan keimanan. Tentunya tidak bisa kupahami jika hanya bersumber dari Qur'an karena berdasarkan salah satu ciri dari Al-Qur'an yang dulu sempat ku pelajari ia bersifat umum dan sangat butuh penjelasan dari hadist ataupun ulama-ulama. 

Aku mulai mencari kajian-kajian yang berkaitan hingga status WA teman mengaitkanku dengan playlist ceramah Ustadz Felix mengenai keimanan. 

Ada banyak pemahaman yang ku dapat yang semakin menyadarkanku bahwa selama ini aku hanya pemeluk agama Islam bukan seorang muslimah. Aku hanya mengikuti agama dari ayah dan ibu tanpa tahu pasti alasan keimananku. 

Pengalamanku memahami keimanan ini membuatku sampai kepada satu konklusi bahwa kita perlu berpikir mengenai kenapa. Mengetahui alasan dibalik setiap hal yang kita yakini dan lakoni. Allah SWT dalam ayat Al-Qur'an yang pertama diturunkan berfirman : Bacalah. 
Sebenarnya jika ditilik lebih jauh arti dari bacalah bukan sekedar anjuran untuk membaca tetapi juga anjuran untuk berpikir, menganalisis, dan menelaah lebih jauh. 

Berkaitan dengan hal tersebut, malam ini aku menemukan sebuah ayat yang semakin menguatkan jawaban kenapa kita perlu berpikir. Hal ini tercantum dengan jelas di Surah Al-Qamar (Bulan). Allah SWT menceritakan beberapa kisah masa lalu seperti bagaimana kaum kafir yang tak percaya hari kiamat, bagaimana kaum Ad, Samud dan kaum Nabi Luth yang diberi azab oleh Allah karena perbuatannya. Allah mengatakan dalam firmannya ini  (Q.S Al-Qamar) yang membuatku berkali-kali tertegun

"Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"

Tidak hanya sekali, Allah bahkan mengulanginya hingga 7x pada ayat ke 15,17, 22, 32, 40, dan 51. Mengambil sebuah pembelajaran tentunya membutuhkan proses berpikir (bagi orang yang ingin belajar). 

Dari ayat ini juga, ada hal lain yang tersirat yang bisa kita pahami yakni Allah memberikan kita pilihan. Pilihan untuk beriman secara produktif atau sekedar beriman? Mau berpikir atau tidak? 
Kamu yang tentuin! 

Wallahu A'lam Bishawab

Comments

Popular Posts