#MARIBERBICARA tentang Hidup, Iman, dan Isu terkini


                Perjalanan hidup manusia memang tidak bisa diprediksi. Harapan dan kenyataan tak selamanya selaras. Namun, bukan berarti kita menderita. Bisa jadi kita hanya kurang jauh memandang. Tuhan memberi kita dua mata dan satu mulut untuk  menunjukkan bahwa seharusnya kita lebih banyak memandang bukan mengeluh, lebih banyak mengamati nikmat Tuhan bukan hanya berbicara kekurangan yang menerpa. Hidup tak selamanya sesuai kehendak tapi Tuhan memberi kita pilihan mau bersyukur atau kufur. Setidaknya, itulah yang kutahu hingga kini.

                Setiap harinya kita seperti menaiki roller coaster kehidupan. Naik turun hingga tikungan tajam pasti pernah kita lalui. Lihatlah, kita sudah sejauh ini. Sungguh, jika bukan Allah yang mengizinkan ini semua bisa jadi kita sudah berhenti dan turun dari roller coaster ini dan kembali pada-Nya. Tapi, Maha baiknya Ia memaafkan kita dan mengizinkan kita memperoleh kesempatan kedua untuk merasakan nikmatnya iman.

                “Nikmat iman? Emangnya iman itu bisa dirasa? Dan rasanya nikmat? Kamu aneh deh”.

                “iya, kamu bener sih awalnya juga aku berpikir hal yang sama. Masa iya iman itu nikmat?”

                Bukan hal yang mudah memang untuk bisa merasakan nikmatnya iman. Tapi, bukan tidak mungkin. Semua ummat muslim bisa merasakannya. Hanya saja kita terkadang kurang peka. Iman itu ibarat akarnya pohon, mengakar dalam diri setiap muslim. Semakin kuat akarnya semakin terpancar pula kedahsyatan iman dalam diri seorang muslim. Akar ini pastinya tidak tampak, karena kalau tampak sudah pasti pohonnya tidak kuat. Sama halnya dengan iman seorang muslim, seharusnya tidak tampak dan itu hanya antara ia dan Tuhannya. Kekuatan akar ini akan tercipta jika ia bisa memupuknya dengan baik. Sehingga tak tumbang di terpa angin, tak jatuh diterpa badai. Ilmu tauhid-lah kuncinya. Keyakinan kita akan dahsyatnya kuasa-Nya yang membuat kita kuat dan yakin bahwa Islam memanglah jawabannya.

                Semakin menggiatnya gelora demokrasi menjadikan semua pihak bebas menyuarakan pendapatnya. Berdallih ini era demokrasi kita lihat beberapa pihak kini bebas menyuarakan pendapat bahkan menyebarkan pelegalan  same-sex. Honestly, ini adalah isu yang mulai dianggap biasa sekarang. Sangat disayangkan banyak diantara muslim dan muslimah melihat persoalan ini dengan sikap netral. Padahal keberpihakan sangat dituntut dalam hal ini. Tapi, bukan berarti kita berhak untuk men-judge secara tidak manusiawi. Islam sendiri memberikan kebebasan bagi kita dengan segala keteraturannya. Artinya, keberpihakan memang perlu tetapi menghargai satu sama lain adalah kewajiban.

                Secara personal mengenai isu ini aku sangat tidak setuju. Kenapa? Karena secara gamblang Islam menyatakan bahwa hal tersebut tidak dibolehkan dan sebagai seorang muslimah saya menyadari bahwa ini adalah saatnya aku mengambil keberpihakan bukan sekedar bersikap netral. Aku tidak men-judge mereka sebagai manusiawi tetapi aku sangat tidak suka perilaku yang tercipta dari diri mereka. Bukan benci terhadap manusianya tetapi perbuatan yang ia pilih. Dalam pengaplikasiannya memang sulit, dimana kamu harus menghargai seseorang di lain hal kamu juga benci dengan pilihannya. Tapi itulah kehidupan, Nabi Muhammad SAW sendiri juga banyak mencontohkan bagaimana beliau memperlakukan dengan baik temannya yang berbeda keyakinan. Beliau tetap menjadi panutan walaupun beliau tahu satu sama lain mereka jelas berbeda. Sungguh ini merupakan tauladan dalam pergaulan yang sering kali kita lewatkan.

Wallahu ‘alam bishawab

Comments

Popular Posts