Orangtua yang tidak ideal

Beberapa hari terakhir kita dihebohkan oleh suatu berita. "Dampak PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) terhadap meningkatnya kasus penganiayaan terhadap anak". 

Ada banyak pihak yang beranggapan
Ini salah pemerintah
Sekolah harusnya begini dong
Makanya jadi guru yang becus ngajarnya
Orangtua itu kudu sabar
Namanya juga anak-anak 
Kalau ga tahu ya dikasih tau toh ndok bukan dipukul
Dan masih banyak lagi! 

Ada satu hal yang mungkin kiranya menjadi sentral dalam permasalahan ini yakni Orang tua. Masa pandemi mengharuskan murid-murid belajar dirumah yang tentunya mengakibatkan tugas orang tua khususnya ibu bertambah. Jika dulunya hanya menjadi ibu rumah tangga sekarang harus menjadi guru dadakan. Jika dulunya harus bekerja diluar kemudian lanjut lagi beberes rumah sekarang semakin bertambah perannya menjadi ibu google yang harus serba tahu. Mengejutkan? Tentu saja. Tidak semua ibu  dibekali keahlian mengajar mata pelajaran. Karena harus pula kita pahami bahwa setiap wanita punya kelebihan masing-masing yang membuat kita berharga dengan cara kita yang unik. Tapi, kini kita ditunjukkan secara tersirat bahwa iniloh peran wanita yang dimaksud dengan madrasah pertama. Sebagai madrasah utama, dialah dasar dan pondasi yang akan membangun sebuah generasi untuk peradaban berikutnya. 

"Ceilah, susah amat bahasanya"

Singkatnya begini, wanita dalam perannya sebagai ibu menjadi sebuah kewajiban baginya untuk bisa memberikan bantuan pengetahuan yang layak kepada putra-putrinya, apakah itu berasal dari ia sendiri atau perantara orang lain, itu adalah pilihan cara yang bisa dilakukan sang ibu dalam memenuhi kewajibannya. 

Karenanya, saya percaya bahwa setiap ibu pasti cerdas. Cerdas dalam hal apa pun itu yang tidak bisa kita kategorikan secara pasti. Kebenaranlah yang menunjukkan bahwa kecerdasannyalah yang menghasilkan kita sebagai "produk nyata". Menurut penelitian pun demikian, intelegensi seorang anak menurun dari sang ibu. Karena itu, jika mungkin sekarang banyak ibu-ibu yang kita lihat sudah tidak sesuai dengan kodratnya. Bisa jadi ada hal-hal yang tidak kita ketahui.

Di tengah pandemi seperti ini
sektor ekonomi merosot tajam
Tulang punggung hampir tak sanggup lagi menjadi dirinya
Bukan lagi pegal bahkan jika boleh ia ingin retak
Institusi pendidikan terpaksa dirumahkan
Anak-anak juga harus tetap di rumah
Peran ibu berganti menjadi guru
Semakin banyak anak
Semakin banyak pula pelajaran yang harus sang ibu kuasai
Sementara, tugas dapur sumur kasur semakin tak teratur
Ingin berteriak tapi tak bersuara
Mengadu ke suami, takut menambah beban sulitnya ekonomi 
Sungguh tak mudah memang
Ada banyak hal yang tak terkendalikan

Oleh karena itu, tak heran jika kita lihat banyak ibu-ibu terguncang emosionalnya hingga terekspresikan pada goresan luka dibadan anak. Naudzubillah. 

Untuk itu, 
Marilah kita benahi
Diri yang kadang tak sadar ini
Sebagai anak 
yuk belajar mandiri
Ibu sudah punya beban tersendiri
Tak salah memang jika ingin bermanja diri
Tapi, berdikari nyatanya bisa menyelamatkan diri
Membantu ibu melakukan segala kewajiban yang terpatri
Ibu tak harus tahu segalanya tentang ini
Tapi yakinlah, kemanapun kau pergi
Ia akan selalu disini menanti
Membersamaimu walau raga terpisah lagi

Sebagai ibu
Ataupun calon ibu
Mari selalu perbaiki diri
Tingkatkan kemampuan yang kiranya penting tuk dilengkapi
Tak melulu harus bisa sendiri
Karena kita juga bisa berkolaborasi
Kecerdasan emosional pun turut dibekali
Memang kesannya tak terlihat oleh mata ini
Tapi kecerdasan ini akan selalu tercemin pada akhlak diri


Ini bukan kondisi yang mudah untuk semua orang
Sejatinya
Tidak ada orangtua yang ideal
Dan sebaliknya
Tidak ada pula anak yang ideal
Kita dipersatukan dalam satu mahligai bernama keluarga
Pastinya karena suatu alasan
Melengkapi untuk menyempurnai
Bukan malah saling tak peduli

#semoga bumi lekas membaik



Comments

Popular Posts