jangan menoleh ke belakang

Pernahkah kau mengalami hal pahit hingga dadamu sesak akannya? Mungkin bagi orang lain itu biasa, tapi bisa jadi bagimu menyakitkan. 

Aku paham rasanya, bukan karena aku bersimpati akanmu, tapi pernah ada disana menjadikanku mengetahui lika likunya. Walaupun bisa jadi kita berbeda, tapi setidaknya kamu harus tau, kamu ga sendirian 

Dulu aku bingung, bahkan kalau boleh dibilang, aku selalu bingung. Bingung akan segala hal yang ada dihadapanku, dibelakangku dan hal yang kini terjadi! 

Tak jarang, kata kenapa secara tak sadar langsung terlontarkan dariku manakala ada sesuatu yang diluar nalarku. 

Syukur olehku punya ayah, ibu dan kakak yang menerima segala keanehanku. Menjawab segala pertanyaan bahkan yang bukan pertanyaan. 

Hingga kini, saat usiaku beranjak dua satu
Dua angka yang harusnya menggambarkan kedewasaanku 
Tapi aku malah ingin selalu menjadi anak ibu dan ayahku

Iyah, aku anak ibu dan juga ayah
Dan tentu aku tak malu akannya
Karena bagiku, menjaga dan membuat lengkungan di wajah mereka adalah kewajibanku hingga mereka tiada

Aku tau, sebagai anak aku juga tak sesempurna itu
Pasti pernah mungkin sering tanpa sadarku
Terucap kata kata yang menggores hatinya
Tapi satu hal yang pasti, bukan niatku melakukannya bu,yah.

_____
Balik lagi ke cerita sebelumnya
Tentang segala kebingunganku akan dunia
Khusunya tentang pertanyaan

"Mengapa harus aku? Dan mengapa aku yang disini?"

Kalau ku biarkan diriku larut dalam emosi tentu aku akan tenggelam dalam lautan kekufuran. Meniadakan hal lain, dan mencari ketidakadaan. Sungguh merugikan! 

Tapi, tidak munafik. Tentu ku juga pernah mengeluh hingga raga penuh peluh. Bukan fisikku yang terluka, tapi hati yang tak bisa merasa. 

Hingga kemacetan jalan menyadarkanku. 
Kulihat puluh hingga ratusan kepala menghadap ke depan. Sambil berbincang dengan boncengannya atau mungkin bergumam jika ia sendirian. Ku lihat pula kanan kiri kepalanya melongok ke depan. Marah dan kesal "kenapa sih ga jalan2!"

Pikiranku berkelana, melihat insan paruh baya yang tampak lelah sepulang bekerja, dan ada pula sepasang insan muda sedang berbincang bak sedang dimabuk asmara. 

Siapakah pencipta skenario besar ini, jika bukan diri-Nya. Membuat semua kisah yang bukan hanya kelihatan apik tapi sempurna! Ditambah dengan semua percakapan yang terbuang disana. 

Tak seharusnya aku mempertanyakan "Mengapa". 
Bukankah harusnya ku tanya "Apa"

"Apa yang bisa kulakukan dengan skenario  ini?"

Memberanikan diri untuk nyaman dengan ketidaknyamanan yang ada. 
Membuang ego dan menanam keikhlasan
Mengeyampingkan kekerasan, menggantinya dengan kelembutan

Bukan karena dia mereka atau semua! 
Tapi karena aku, karena aku pantas bahagia
Karena aku pantas menemukan cinta 
Cinta yang menjadikan diriku bermakna
Menebar kebaikan dimana pun aku ditempatkan




Comments

Popular Posts