Menjadi manusia (bersama kakek)

     Seiring bertambahnya umurku, bertambah pula keingintahuanku akan dunia. Mungkin, itulah yang dimaksud dengan mendewasa. Belajar, berproses, gagal dan bangkit adalah ritmenya. Saat ini, kehidupan tengah membawaku untuk mengenal lebih jauh tentang kehidupan manula (manusia lanjut usia). Hidup bersama, mendengar cerita dan keluh kesahnya di masa senja. Beliau adalah kakekku. Sempat jaya pada masa mudanya, itulah kebanggaan yang kerap kali ia ceritakan dengan cucu-cucunya.

    Kini, masa kuatnya sudah berlalu. Sering kulihat beliau menatap nanar tubuh yang tak lagi sekuat dulu. Untuk berbincang pun tak seaktif dulu. Beliau perlu menarik nafas panjang hanya untuk mengatakan "Kakek mau makan". 

    Sering pula ku pegang tangannya, ku lihat kulit yang tak lagi kencang menempel di tulangnya. Ku lihat pula tanganku, "Sungguh menua adalah proses yang pasti", gumamku. 

    Akhir-akhir ini beliau sering mencoba bercerita denganku, ada banyak hal yang kami bincangkan. Mulai dari kehidupan masa mudanya hingga kecintaaannya dengan ilmu filsafat  yang sangat berbeda dengan jurusan yang ku ambil. 

    Menjadi seorang mahasiswi Pendidikan Matematika, filsafat ataupun sosial bukanlah teman akrabku. Namun, beruntunglah aku yang sudah sempat membaca buku yang berkaitan dengan topik yang beliau bincangkan. Setidaknya, dengan beliau merasa aku memahami perkataannya beliau akan merasa senang. Ternyata cucunya sudah bisa menjadi lawan bicara. HEHEHE.

    Ah, hampir lupa aku memperkenalkannya. Beliau adalah Datuk Ali Yusran. Delapan puluh tahun lebih sudah ia di bumi. Pahit asam manisnya kehidupan pasti pernah pula beliau rasakan. Kini ia bercerita sedikit denganku, tentang asal muasal manusia, di sini, ia di buminya Allah ini.

____

      Di hari Jum'at yang berkah ini, aku tengah mempersiapkan lembar pernyataan untuk kepentingan organisasiku. Sementara, kakek baru saja selesai makan di temani ibu. Tiba-tiba kakek mengatakan hal yang memancing nalarku bekerja

    "Tatatan usaha sosial manusia sudah ada sebelum kita diciptakan di dunia".

    Aku yang sedang asik mengatur berkas tentunya dibuat heran akan pernyataan ini. Aneh, sekaligus kenapa sih kalimatnya harus susah gitu, usaha sosial? apaan si itu? Lama aku berpikir hingga kakekku berkata

    "Bisa kau mengerti itu?"

    "Iya sih, kek pastilah ada tatanan sebelum kita tercipta", terbangun dari lamunanku, langsung saja ku jawab itu.

    Ia pun melanjutkan ceritanya,

____

    "Dalam kehidupan, setidaknya ada 3 bingkai kehidupan sebelum kita, diantaranya:

1. Kehidupan berburu

 (aku langsung berpikir apakah ini membahas tentang zaman manusia purba, 'ahh, sudahlah pasti banyak hal yang belum ku ketahui tentangnya, lebih baik kudengarkan saja!')

Kehidupan berburu bermula dari situasi yang mengancam kehidupan manusia kala itu. Hidup ditengah hutan rimba, manusia sering kali merasa terancam dengan kehadiran hewan-hewan buas yang mengitarinya. Demi menyelamatkan nyawa, mereka pun beradaptasi dengan memburu hewan-hewan tersebut. 

Inilah manusia-manusia kuat pada zaman dahulu. Manusia yang hidupnya berpindah-pindah (nomaden) yang disebabkan oleh keadaan lingkungan yang mereka tempati. Dan, manusia inilah yang menjadi calon-calon raja di kemudian hari. Kehidupan ini pula yang pada masanya berlaku istilah paternal, dimana garis ayah lebih kuat dibanding ibu.

2. Kehidupan bercocok tanam

(nah kan bener ini bahas zaman prasejarah, gpp din yuk dengerin lagi)

Kaum yang lemah atau bisa dikatakan tidak sekuat kaum berburu, berlindung di gua. Mereka tidak keluar dari sana, malah untuk makanan saja diantarkan oleh keluarganya. Dari sisa-sisa makanan yang tanpa sadar jatuh ke tanah tersebut, tumbuhlah tanaman-tanaman yang ternyata adalah makanan. Dari sinilah mereka belajar bercocok tanam. Merekalah yang akhirnya hidup menetap. Mengolah tanah dan berburu ikan-ikan kecil.

Mereka pada umumnya menganut sistem maternalistik, dimana garis ibu menjadi dominan.

Dan yang ketiga adalah....."

________

    Kakekku diam untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya ia mengatakan

"Kakek lupa", dan kembali tidur.

_______

    Berbincang dengan kakek menyadarkanku tentang arti penting menjadi manusia. Tentang arti penting beradaptasi dengan situasi. Kali ini aku tidak memandang hal ini dari segi pelajaran pra sejarah. Tetapi dari bagaimana seorang manusia bisa berkembang dan bertahan di tengah situasi yang sulit hanya dengan menggunakan insting sebagai makhluk hidup.

    Namun, kini di era yang bisa dikatakan semuanya serba ada dalam genggaman. Aku masih menjadi manusia yang kalah dengan keadaan. Masih ngeluh hanya karena satu, dua hal yang tidak sesuai harapan. Masa iya aku kalah sama manusia purba yang ga tau apa-apa? Njleeb. Aku berpikir dan merenung sejenak.

    Hingga, sampai padaku suatu konklusi bahwa ternyata keadaan yang ada bukan penghambat manusia untuk bisa berkembang. Melainkan sebuah pemicu bagi manusia yang mau berkembang dan berubah. Dan gak masalah juga kalau ia gak mau berubah, setidaknya ia tetap hidup seperti manusia bercocok tanam. Tapi tentunya pola pandang manusia yang mau berubah seperti manusia berburu lebih berkembang dan luas dalam suatu menghadapi masalah. 

    Singkatnya, kalau mau hidup sekedar hidup, ya pasti akan hidup. (selagi Allah masih kasih nafas). Tapi, kalau mau hidup dengan hidup yang berarti, pasti ada tantangan yang harus dihadapi. Perbincangan ini mengembalikanku pada salah satu prinsip hidup yang kugunakan selama kurang lebih 21 tahun ini, yakni hidup adalah pilihan.

    Nah, pertanyaannya, kamu mau jadi yang mana nih? manusia berburu atau bercocok tanam? It's on ur own choice!

Comments

Popular Posts