kembali bersamu #1
Suatu malam yang penuh kehangatan, canda tawa serta cagilan dengan adikku tiba-tiba berubah menjadi romansa yang mengingatkanku tentangmu. Jika boleh ku katakan mungkin tulisan ini adalah salah satu yang hal yang membuatku geli akan diriku sendiri di kemudian hari. Sesuatu impian gila yang berkelebat dan melekat seperti perekat antara aku dan kamu , setidaknya itulah harapku.
____
"Wuhuuuuuuu,... ", teriakku di atas sebuah mobil kuda merah yang sayangnya kudanya sudah lari duluan. Sambil menatap lekat pemandangan yang kembali membuatku jatuh cinta 3 tahun yang lalu. Perpaduan warna hijau yang bergabung seperti rapat senat nan tertata menjadikan dirinya ibarat permata keindahan daerah ini. Sebuah tempat yang telah mempertemukanku denganmu. Ingin sekali kuucapkan dengan lantang kepada dunia yang menghadapku " Pak Pak, terimakasih sudah menghadirkan Ia untukku! "
____
Januari 2020, awal dari sebuah tahun yang mencekam dunia. Aku pun tak menyangka awal tahunku yang bahagia, dalam 3 bulan berikutnya menjadi duka.
Menjelang UAS, mahasiswa tingkat akhir mulai disibukkan dengan sebuah program wajib yang sudah di depan mata, KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebuah episode yang seru sekaligus menjadi momok bagi mahasiswa yang tidak terbiasa "hidup susah". Tempat dimana mahasiswa di lemparkan ke negeri yang tak dikenalnya sama sekali. Namun, jika boleh ku katakan mungkin 80% mahasiswa akan mengatakan, " Masa ini sangat menyenangkan, mari nikmatin saja!". Setidaknya, begitulah gambaran singkatku tentang episode ini.
Ditengah sibuknya persiapan UAS, aku juga dibikin gugup akan episode ini. Akankah aku selamat? Katanya tempatnya akan sangat jauh sedangkan tempat terjauhku hanya sebatas tanah Langkat dan itupun cuma 2 hari. Bagaimana seorang anak gadis ayah yang manja ini bisa bertahan 30 hari lamanya? Memikirkannya saja sudah membuatku gemetar. Tak sampai disitu, di tengah proses pendaftaran akupun dibuat bimbang sekaligus terasing. Teman-temanku saling berbisik, "katanya kita bisa dapetin daerah sama loh, kalau isinya barengan, eh nanti kita harus bareng pokonya", bisiknya dengan penuh kepastian,." Eh, iya yah, yauda oke-oke aku juga mau klo gtu, aku tu ga bisa di daerah orang sendirian", tambah salah seorang lainnya. Mendengarkan hal tersebut, pikiranku kembali menerawang dan membayangkan apa jadinya jika aku yang sendirian. Aku bukanlah sosok sahabat yang hangat yang dinantikan seseorang, malah kalau bisa dihindari. Setidaknya, itu yang kurasakan ketika aku bersama mereka. Terasing ditengah tawa, tersenyum dalam kesunyian.
Singkat cerita, aku memutuskan untuk daftar saja.
"Aku selalu yakin, siapapun yang Tuhan pertemukan untukku pasti itu yang terbaik. Jika bukan yang terbaik sekarang, mungkin aku akan menyadari kehadirannya sangat berharga di kemudian hari. Bahkan, mungkin saja aku akan berbunga di saat yang sama dengan salah satu diantaranya", gumamku.
Sejenak aku tertawa geli mendengar dawai pikiranku yang terakhir. Haha. Menemukan cinta di sana? Begitu menggelikan. Tapi, dikemudian hari siapa sangka pikiran gilaku terwujud sedemikian rupa.
Hari demi hari berlalu, rasanya waktu berputar lebih lama di porosnya. Aku ibarat menanti kekasih yang tak kunjung datang kala rinduku mulai sesak. "Ah, apa yang ku pikirkan", gumamku.
Hari yang di nanti tiba. Disaat perkuliahan yang serius, temanku malah riuh tak karuan bahkan kini riuh menjelma menjadi jeritan. Ada yang senang ada pula yang tampak murung. Aku ,si gadis kecil ayah yang selalu sibuk saat belajar, tetap acuh akannya. Hingga salah seorang temanku, Lala, berkata " Na, kita sekelompok! ". Aku terdiam dalam raut bahagia sebelum ku jawab dengan nada gembira "Beneran La, kamu ga salah lihat?". Dengan wajar cantiknya yang nantural itu, Lala mengiyakan pertanyaan itu.
Dan percaya atau tidak, episode ini setidaknya akan menghebohkan seisi rumah terhitung dari 2 minggu sebelum keberangkatan. Episode-episode yang tak kusangka menjadikan awal persatuanku denganmu.
Berlanjut,...
Comments
Post a Comment