The truth
ia terdiam sejenak
berpikir rangkaian kata apa yang menggambarkan semuanya
ia berusaha menemukannya
tapi, ia malah menemukan ia
Saat refleksi diri terasa menakutkan
sanggupkah kau melihatnya dengan kedua mata terbuka
atau akankah engkau menutupnya dengan kelima jari yang bahkan tak tertutup sempurna
hanya tuk melihat kemungkinan apa yang memungkinkanmu untuk lari
apakah lari adalah jawabnya?
apakah menghindar dari semua ini adalah jalannya?
sampai kapankah kau akan berdiam diri melihat semuanya
haruskah kau menunggunya hingga mati perlahan?
aku menjatuhkan diriku padanya dengan sadar
apakah sadarku akan sakit ini adalah nyata?
ataukah hanya ilusi semata?
atau inikah pengalihan yang sebenarnya?
Terjebaknya aku dalam ruang penuh cermin menyadarkanku akan satu hal
aku takut menghadapi diriku sendiri
menyadari kekurangan itu melekat padaku seperti petaka yang tak bisa kuterima
bagaimana bisa ku memberi jika menerima saja ku tak bisa?
melihat kebenaran di depan mataku ibarat darah segar yang mengalir
ia terang dan tak terbendung
memuncratkan auranya hingga mataku tak sanggup melihatnya
namun, tak lagi ku bisa mengelaknya
darah itu sudah selayaknya mengalir
membendungnya tak menyelesaikan banyak hal
mekanisme penyembuhan lukanya adalah keajaiban dari TuhanNya
manusia hanya bisa mengatasinya dengan kemampuan akal dari-Nya
tapi, sudahkah aku mampu menatapnya tanpa tapi
menginginkannya dengan penuh hati-hati
hingga tanpa sadar rasa itu tak pula terpaut lagi
bak, mawar yang layu namun tak mati
Comments
Post a Comment