Penonton Drama yang Ulung
Jari jemari silih berganti
Ketik dan Klik sana sini demi sebuah fantasi
Lini masa tak henti menjadi penghibur diri
Sadarkah ia tentang adanya konsep diri?
Katanya ini era teknologi
Segala macam hal pun turut terdisrupsi
Korupsi dan Kolusi bukannya sudah tak ada lagi?
Mana yang katanya penuh transparansi?
Aku berdiri disini
Menjadi penonton dalam drama penuh misteri
Satu demi satu aku buka sendiri
Demi satu kata yakni "kepuasan" pribadi
Pernahkah kau sejenak berpikir?
Kenapa pula harus ada konsep diri?
Kenapa pula harus ada pepatah "jadilah dirimu sendiri"
Namun kini, kenapa engkau takut tuk mengakui?
Lupakah engkau akan Tuhan yang selalu mengayomi?
Memberi rahmat dan rezeki dalam setiap lini
Lupakah engkau akan banyak orang yang peduli?
Hingga terbesit rasa kecil dalam hati nurani
Wahai, penonton drama yang ulung!
Tak bosankah engkau memantau di balik layar tak bersuara itu?
Tak lelahkah jari jemari itu berkomentar untuk sesuatu yang semu
Atau benarkah semua itu tentangmu?
Detik demi detik berlalu kau hanya diam terpatri
Menunduk bak sedang merenung
Menari bak pedansa masa kini
Menebar kata demi kata bak orator ulung
Tapi, benarkah demikian?
Itukah garis Tuhan-Mu yang kau wujudkan?
Menjadi penonton drama yang ulung dalam kehidupan orang lain
Tapi pemain cadangan dalam skenario sendiri
Tidak bosankah engkau dengan situasi ini?
Sampai kapan penonton ulung itu bisa hidup?
Menonton pun butuh asupan
Tapi bermain engkaulah yang menentukan
Bagaimana?
Sudahkah kau tentukan pilihan?
Penonton atau pemain yang engkau tangguhkan?
Comments
Post a Comment