Terbiasa Melupa
Ada hari dimana setiap hal akan jadi istimewa
Ada pula hari dimana setiap hal rasanya terlewatkan begitu saja
Hari yang mana yang akan ku ceritakan?
Mungkin yang kedua adalah jawabannya
Tepat tahun lalu, perasaan ini dimulai
Aku yang dulunya bergelora
Tiba tiba terlupa karena keadaan
Pikirku melambung tinggi sebelumnya
Tapi khayalku ternyata buaian semata
Aku terjebak dalam ilusi tak berlogika
Indah nian tipu daya manusia
Namun nyatanya kosong tak bermakna
Aku menggali tiap kata
Mencari makna dan mencoba berlogika
Tapi, tak jua kutemui dirinya
Dalam tautan tak berujung bernama kenikmatan
Akhir ramadhan tahun lalu, mengingatkanku akannya
Sebuah makna yang kini telah terbiasa ku lupa
Sebuah ciri khas yang tak terlupa dari semaraknya mengakhiri ramadhan
"baju baru", itulah maksudku
Tahun lalu makna dua kata tersebut berubah drastis bagiku
Kondisi kehidupan yang tak tentu, menjadikanku pun turut menggerutu
Tapi apalah daya seorang aku?
Insan kecil dalam dunia yang tak ber penghujung
Aku terpaku akan makna baru
Sepenting itukah ia dalam hidupku?
Seyogyanya, apakah ia yang menjadi tujuan akhirku?
Ataukah kebaruan makna hidup yang ingin ku tuju
Teringat kembali olehku tulisan dahulu
Bukankah hidup emang begini melulu
Kenikmatan dunia bak air yang tak pernah memuaskan dahagamu
Baju baru bukanlah hal yang ingin kutuju
Kenikmatan ramadhan menjadi garis besarku
Makna terdalam mulai kurengkuh
Dalam balutan lelah juga peluh
Aku pun kini tak ragu akan nikmat-Mu dalam setiap cobaan-Mu
Aku mencoba mengurai makna dalam tiap ujian yang menerpaku
Bisa jadi, ia sama seperti makna 'baju baru' yang kutemui tahun lalu
Membuatku malu dan kini melupakanmu
Karena ku tahu, baru tak selamanya untukku
Baju baru alhamdulillah, kalau gada yaudah:))))
ReplyDelete